asal usul tari seluang mudik
Dahulu kala di tepian Sungai Musi, di sekitar Desa Rantau Bayur dan Tebing
Abang, tinggallah seorang bujangan yang hidup sendirian. Bujangan ini biasa
dipanggil penduduk dengan sebutan Datuk Arenan. Karena usianya sudah sangat
lanjut dan seumur hidupnya belum pernah menikah, orang-orang menggelarinya
dengan sebutan bujang tua.
Pekerjaan sehari-hari Datuk Arenan adalah mencari ikan di sungai. Ia mencari
ikan dengan menggunakan ambat (rawai). Ambat adalah alat untuk mencari ikan
yang dibuat dari rotan yang panjangnya sekitar 50 – 100 meter yang biasa
digunakan oleh masyarakat sekitar. Di setiap 1 meter diletakkan kail yang
diberi umpan. Pada bagian pangkal ambat diikatkan di pohon besar di pinggir
sungai. Sementara di bagian ujung ambat diberi batu. Untuk mencari ikan
ambat dibawa ke sungai dan ujung ambat diletakkan di tengah sungai. Ambat
dipasang pagi atau sore hari dan diangkat pagi hari.
Seperti biasanya setiap pagi Datuk Arenan memeriksa ambatnya. Namun, tampaknya
hari itu nasib baik tidak berpihak kepadanya.Di ambatnya tidak ada seekor
ikanpun yang tersangkut, padahal saat itu sedang musim ikan mudik atau musim
ikan kebangaran (mabuk). Pada musim itu biasanya air sungai warnanya berubah
menjadi kehitam-hitaman dan berbau tidak sedap. Di antara ikan-ikan mabuk itu
yang paling banyak adalah ikan seluang. Ikan seluang mabuk itu sangat mudah
didapatkan. Memang saat itu sedang musim kemarau. Rupanya ikan seluang yang
berlimpah itu tidak menarik minat Datuk Arenan dan malah ia memasang ikan
seluang sebagai umpan di setiap kail yang ada di ambatnya.
Walaupun ia sempat kecewa tidak mendapatkan satu ekor ikan pun, Datuk Arenan
tidak patah semangat. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Datuk Arenan melihat
ambatnya. Rupanya, pagi ini Datuk Arenan kembali dibuat kecewa sebab tidak ada
satu ikan pun yang melekat di ambatnya. Terpaksalah Datuk Arenan memasang lagi
ambatnya dan menganti umpannya dengan yang baru. Setelah selesai, pulanglah ia
ke rumah. Keesokan paginya ia periksa lagi ambatnya dan tetap tidak ada satu ikan
pun yang ia dapatkan. Peristiwa ini berlangsung terus sampai satu minggu. Akan
tetapi Datuk Arenan tidak pernah lelah. Tiap pagi ia terus berusaha dan tidak
letih berharap sambil mengganti umpan dan memasang ambatnya.
Setelah satu minggu tidak mendapatkan hasil apa pun, tidak seperti malam-malam
biasanya, pada malam itu itu Datuk Arenan tertidur sangat pulas. Dalam tidurnya
ia bermimpi didatangi orang tua yang sangat bijak dan bersahaja. Orang tua itu
mengenakan pakaian putih bersih, wajahnya berjenggot putih panjang, dan
memegang tongkat layaknya seorang wali.
“Hai Datuk Arenan, jadilah Engkau orang yang sabar dan tabah. Besok pagi sekali
pergilah Engkau melihat ambatmu dan akan Kau dapatkan keajaiban di sana,” ujar
sang kakek.
“Keajaiban apakah yang akan aku temukan?” tanya Datuk Arenan.
“Aku tidak akan menjelaskannya. Sebaiknya Kau lihat sendiri keajaiban itu besok
pagi,” jawab kakek.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sang kakek langsung menghilang dan Datuk
Arenan pun terbangun dari tidurnya. Ia sangat heran dengan mimpinya karena
seumur hidupnya belum pernah ia bermimpi seperti itu. Ia terus memikirkan
mimpinya itu dan tidak bisa tertidur lagi. Ia pun tidak sabar menunggu pagi
hari.
Untuk membuktikan mimpinya, pagi-pagi sekali Datuk Arernan pergi ke sungai
untuk menarik ambatnya. Suasana masih sangat sepi, belum ada satu orang pun
yang ia temui di perjalanan. Saat menarik ambatnya, ia melihat pada kail kedua
dan ketiga tersangkut alat tenun yang lengkap dan sangat bagus. Diambilnyalah
alat tenun itu. Ia pasang lagi ambatnya.
“Bagus sekali alat tenun ini, punya siapakah gerangan? Apakah ini merupakan
pesan dari mimpiku tadi malam?” tanya Datuk Arenan dalam hati.
Setelah itu Datuk Arenan pun pulang membawa alat tenun tadi. Karena hari masih
sangat pagi, tak ada seorang pun yang melihat ia membawa alat tenun tersebut.
Setiba di rumah dibersihkannya alat tenun itu sehingga alat tenun itu terlihat
semakin bagus, tidak rusak dan bisa dipakai untuk menenun.
Malam harinya, kembali ia bermimpi didatangi kakek yang muncul dalam mimpinya
malam kemarin.
“Datuk Arenan cucuku, hari ini sudah kau dapatkan keajaiaban itu. Akan tetapi
besok pagi kau harus pergi lebih pagi lagi dan akan kau dapatkan keajaiban yang
tak terbayangkan,” ujar kakek tersebut.
“Keajaiban apa lagikah yang akan aku terima, Kek?” tanya Datuk Arenan.
Sang kakek tidak menjawab, tetapi langsung menghilang. Datuk Arenan terbangun
dari tidurnya dan terus memikirkan arti mimpinya itu.
“Apa ya, kira-kira yang akan terjadi besok pagi?” tanya Datuk Arenan di dalam
hati.
Karena sibuk memikirkan mimpinya, ia tidak bisa tidur lagi. Seperti hari
kemarin, ia pun tidak sabar menunggu pagi hari dan ingin mengetahui apa yang ia
akan dapatkan besok.
Menjelang subuh, ia pergi.untuk memeriksa ambatnya. Karena hari masih gelap, ia
tidak bertemu dengan seorang pun selama perjalanan ke sungai. Setelah sampai di
tepi sungai, ia langsung menarik ambatnya. Benar! Kali ini ambatnya terasa
berat sekali, tetapi ia tidak melihat satu ekor ikan pun yang melekat di
kailnya. Dengan tidak berputus asa, ia terus menarik ambatnya. Pada bagian
ujung ambat, ia melihat sesuatu yang berkilauan melekat di ambatnya. Semakin
mendekati ujung ambat, barulah terlihat olehnya seperti kain yang
berkibar-kibar berkilauan. Setelah mencapai ujung ambat, terlihat jelas yang
melekat di ujung ambat adalah seorang wanita. Ia sangat terkejut. Diangkatnya
wanita itu dan dibawanya ke pinggir sungai. Bajunya yang putih berkilauan basah
kuyup oleh air dan wanita itu sangat kedinginan. Segeralah dibawanya wanita
tersebut pulang ke rumahnya.
Setiba di rumah, Datuk Arenan langsung membuka lemari pakaiannnya. Dicarinya
pakaian yang cocok untuk wanita asing tersebut. Kemudian ia teringat bahwa ia
pernah menyimpan baju almarhum ibunya. Baju itu sudah lama sekali ia simpan.
Dicarinya baju tersebut dan dan ia berhasil menemukannya. Ternyata baju itu
masih bagus.
“Ini handuk, baju, dan kain yang bisa kau pakai. Segeralah ganti pakaianmu yang
basah itu. Nanti kamu masuk angin,” ujar Datuk Arenan.
Wanita itu menurut saja. Ia menuju kamar dan mengganti pakaiannya.
Sementara itu, Datuk Arenan sangat bingung memikirkan apa yang harus
dilakukannya. Mula-mula terbesik di benaknya untuk merahasiakan saja apa yang
ia temukan pagi ini. Sesaat kemudian pikirannya berubah. Cukup lama ia
memikirkan hal tersebut. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa yang
dialaminya kepada krio di kampungnya.
“Ada apa Datuk, panas terik begini Datuk menemui saya. Pasti ada hal yang
sangat penting yang ingin Datuk sampaikan kepada saya,” ujar krio.
“Ada hal penting yang ingin saya katakan.”
“Katakanlah, Datuk. Jangan sungkan-sungkan. Saya siap mendengarnya. Kalau
memang ada masalah, mudah-mudahan saya bisa bantu.”
“Begini, Krio. Tadi pagi seperti biasa saya memeriksa ambat yang saya
pasang. Namun, saya mendapatkan suatu keajaiban Di ujung ambat saya tersangkut
seorang wanita yang tidak saya kenal. Sekarang wanita itu ada di rumah saya.
Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan apakah yang saya lakukan ini
sudah benar?”
“Benarkah Datuk apa yang Kau bicarakan?”
“Benar, Krio.”
“Jadi, sekarang ini wanita itu ada di rumahmu?”
“Betul, Krio.”
Cukup lama krio berpikir. Ia pun melanjutkan perkataannnya.
“Datuk adalah seorang laki-laki yang tinggal sendirian di rumah. Akan menjadi
aib yang sangat besar kalau Datuk membiarkan wanita itu tinggal di rumah Datuk
seperti sekarang ini. Menurut saya, karena Datuk belum punya istri, bagaimana
kalau Datuk kawini saja wanita itu. Karena datuk yang menemukan wanita itu,
Datuklah yang lebih berhak menjadi istrinya.”
Mendengar ucapan krio, Datuk Arenan sangat gembira. Tidak pernah terbayang
dalam hidupnya bahwa ia akan menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik
dan selama ini kecantikannya belum pernah ditemui pada wanita-wanita di
kampungnya.
Tidak lama setelah pembicaraan Datuk Arenan dengan Krio, diumumkanlah berita
pernikahan Datuk Arenan. Setelah itu, diadakanlah pesta besar-besaran di
kampung itu. Semua masyarakat bergembira. Pada acara perkawinan tersebut, Datuk
Arenan dan istrinya mengenakan pakaian adat perkawinan. Istri Datuk Arena yang
memang cantik, semakin cantik dangan dandanan pengantin tersebut. Semua warga
pun mengakui dan memuji kecantikan istri Datuk Arenan sehingga Datuk Arenan
merasa sangat bangga.
Setelah pesta pernikahan usai, istri Datuk Arenan berpesan kepada suaminya.
“Kak, aku ikhlas dan rela menjadi istri Kakak karena kebaikan Kakak yang telah
menyelamatkanku. Namun, ada satu permintaanku agar rumah tangga kita tetap
langgeng.”
“Permintaan apakah gerangan itu, Dik.”
“Permintaanku tidaklah berat. Aku hanya meminta pakaianku yang pertama kali
kukenakan saat Kakak menemukanku hendaknya disimpan dengan baik dan jangan
pernah memintaku untuk mengenakannya kembali.”
“Kalau hanya itu permintaanmu, tentulah aku sanggupi.”
Mereka berdua kemudian hidup berbahagia. Datuk Arenan tetap meneruskan
kebiasaannya menangkap ikan. Istrinya di rumah saja. Pekerjaan sehari-hari
istrinya, di samping malayani suaminya, ia menenun benang menjadi kain
menggunakan alat tenun yang ditemukan Datuk Arenan sebelum menemukan dirinya.
***
Selang beberapa bulan kemudian, desa tersebut kedatangan tamu jauh. Tamu
yang datang adalah rombongan dari Kesultanan Palembang yang pergi berburu.
Karena kemalaman, rombongan pun menginap di desa itu.
Seperti biasa, setiap ada tamu yang datang, masyarakat mengadakan jamuan untuk
menghormati tamu. Selain dihidangkan makanan, tamu juga disuguhi dan dihibur
dengan nyanyian dan tari-tarian.
Malam itu, semua tamu merasa senang dan mereka sangat menikmati suguhan yang
disajikan. Banyak warga yang turut hadir dalam jamuan itu, termasuk Datuk
Arenan dan istrinya.
Setelah semua tarian dan nyanyian ditampilkan, para tamu yang terpesona dengan
kecantikan istri Datuk Arenan meminta kepada krio agar mengizinkan istri Datuk
Arenan menari. Disampaikanlah keinginan para tamu kepada Datuk Arenan. Datuk
Arenan merasa sangat gembira. Ia merasa tersanjung dan mendapat kehormatan yang
luar biasa.
“Baiklah kalau begitu, kami berdua pamit pulang sebentar untuk berganti
pakaian,” kata Datuk Arenan kepada krio yang menyampaikan permintaan para tamu.
“Sebenarnya, pakaian yang dipakai istrimu sudah cukup bagus, tetapi kalau istri
Datuk ingin berganti pakaian kami persilakan. Kami semua menunggu di sini,”
jawab krio.
Setelah berpamitan, pulanglah Datuk Arenan beserta istrinya. Kerena jarak dari
tempat perjamuan menuju ke rumah Datuk Arenan tidak terlalu jauh, sebentar saja
mereka sudah sampai di rumah.
“Dik, rasanya tidak ada pakaian yang paling pantas kau kenakan pada kesempatan
baik ini selain pakaian yang engkau kenakan waktu pertama kali kita bertemu.
Kenakanlah pakaian itu Kau akan kelihatan semakin cantik dan mempesona.”
“Kak, bukankah Kakak sudah berjanji padaku untuk tidak menyuruhku memakai
pakaian ini? Jadi, tolong jangan suruh aku memakainya. Lebih baik aku kenakan
pakaian yang lain saja. Bagaimana kalau yang ini?” kata istrinya sambil
menunjukkan baju yang cukup bagus yang baru selesai ia buat.
“Tapi, Dik, Kakak ingin engkau mengenakan pakaian ini. Kakak ingin sekali semua
mata terpesona melihat kecantikanmu dalam balutan pakaian ini dan tentu ini
akan membuat Kakak akan sangat bangga .”
“Kak, sekali lagi tolong, jangan…jangan Kakak paksa aku memakai pakaian ini.
Aku takut Kak, kalau aku memakai pakaian ini akan terjadi keanehan yang aku
yakin Kakak dan aku tidak menghendakinya. Percayalah padaku, Kak!”
“Percayalah Dik, Kakak yakin tidak akan terjadi apa-apa pada diri Adik.
Sekarang cepat kenakan, mereka semua sudah menunggu kedatangan kita.”
“Jangan Kak, lebih baik aku memakai pakaian yang lain saja.”
“Ayolah Dik, cepatlah kenakan pakaian ini!”
“Baiklah kalau Kakak memaksa, saya akan turuti. Akan tetapi Kakak jangan pernah
menyesal dan jangan menyalahkan saya jika terjadi sesuatu setelah saya
mengenakan pakaian ini.”
Setelah mengenakan pakaian tersebut, mereka berdua pergi ke tempat perjamuan.
Kemudian, menarilah istri Datuk Arenan pada acara jamuan itu. Keindahan
tariannya membuat semua yang hadir terpesona. Gerakan tariannya yang lemah
gemulai sangat menarik dan memikat hati. Semua bertepuk tangan dan memuji
penampilan isri Datuk Arenan.
Istri Datuk Arenan terus menari dengan sungguh-sungguh.. Namun, semakin lama
istri Datuk Arenan menari, timbulah keanehan. Perlahan-lahan kaki istri Datuk
Arenan terangkat naik. Semakin lama tubuhnya melayang semakin tinggi dan terus
naik hingga hilang dari pandangan mata.
Semua yang hadir terpaku, lalu menjadi panik. Mereka bingung seakan tidak
percaya dengan apa yang mereka lihat. Terlebih-lebih Datuk Arenan. Ia
berlari-lari sambil menjerit-jerit memanggil istrinya.
“Dik, turun Dik, jangan tinggalkan Kakak sendirian. Kakak janji tidak akan
menyuruhmu memakai pakaian itu lagi. Turunlah Dik!”
Berkali-kali Datuk Arenan menjerit memanggil istrinya. Setelah lelah menjerit
dan berlari-lari, ia pun tersungkur di tanah.
“Oh Dik, mengapa kau tinggalkan kakak sendirian. Belum lama kita bertemu,
mengapa Kau tega meninggalkan Kakak dengan cara seperti ini,” ucap Datuk Arenan
sambil tak henti-hentinya menangis dan menyesali tindakannya.
Warga yang mendengar ratapan Datuk Arenan pun turut hanyut dalam kesedihan.
Tidak sedikit pula yang meneteskan air mata. Salah sorang warga membimbing
Datuk Arenan pulang ke rumahnya.
Malam itu datuk Arenan terus memanggil-manggil istrinya sambil matanya menatap
ke langit.
Setelah kejadian itu Datuk Arenan terus dalam kesedihan. Sambil meratapi
kepergian istrinya, ia menggerak-gerakkan tubuhnya mencoba mengikuti gerakan
tarian istrinya sebelum pergi. Ia ingat setiap gerakan istrinya. Setiap hari ia
menari menirukan gerakan istrinya. Semakin sering ia menari, semakinlah ia
sadar tarian istrinya itu seperti gerakan ikan seluang.
Untuk terus mengenang istrinya, Datuk Arenan pun mengajarkan garakan tarian
istrinya kepada gadis-gadis di desanya. Tarian yang diajarkannya inilah yang
diberi nama Tari Seluang Mudik.