Minggu, 08 Maret 2015

WE ARE INDONESIAN

           "Berbeda-beda tapi tetap satu” itu kan semboyan Bhineka tunggal ika? Indonesia, Negara kepulauan dengan beragam budaya, beragam suku bangsa, dan beragam pecinta. Ada yang pecinta sepak bola ada pecinta bulutangkis, pecinta bola basket, dan banyak komunitas pecinta lainnya. Tapi kita berada di wilayah yang sama. Kita mendukung orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mengharumkan nama bangsa. Sungguh ironi, beberapa komunitas sering berselisih membela kelompok masing-masing. Memang, di Indonesia tidak semua olahraga populer. Dan tidak semua olahraga populer berprestasi, tapi alangkah baiknya untuk tidak merendahkan satu sama lain. Apalah untungnya bagi kita yang bukan “atlit” untuk melakukan hal itu. Apakah dengan melakukan itu beras dirumah bertambah? Atau mungkin dengan menrendahkan komunitas lain ada yang memberi uang? Ada yang mengirim paket baju makanan atau semacamnya? Tidak ada bukan. Yang ada hanyalah kekecewaan. Kekecewaan para “atlit” yang melihat warga Indonesia terpisah oleh globalisasi dunia. Tidak semua orang yang bisa seperti mereka. Mereka bertanding membwa nama bangsa. Apapun itu, entah sepakbola, bulutangkis, basket, sepeda, futsal dan sebagainnya. Mereka yang berjuang, mereka yang memikul beban. Mereka hanya meminta satu hal pada Indonesia(dukungan) tapi mereka melakukan banyak hal untuk mengharumkan nama bangsa. Bahkan mereka rela jauh dari keluarga hanya untuk membela Tanah air tercinta. Lebih baik jika kita, entah itu fans sepakbola, bulutangkis, balap, futsal, basket dan sebagainya. Mendukung mereka. Kita dukung atlet sepakbola, atlet bulutangkis, atlet basket dan yang lain. Mereka hanya mengharapkan sedikit dukungan kita, tapi kita terpecah belah hanya karena sebuah omongan yang apabila seseorang yang benar-benar mendukung Indonesia, menanamkan rasa cinta tanah air pada dirinya tidak akan peduli dan TIDAK terpengaruh oleh omongkosong yang dibuat seseorang yang tak mampu melakukan apapun. So let rise again the solidarity that we are INDONESIAN! 

Minggu, 03 Agustus 2014

Mudik itu …
Relia Ariani

Mudik?? Iya mudik .. Mudik adalah salah satu rutinitas bagi beberapa orang menjelang hari raya atau hari-hari besar lainnya. Mudik tentunya identik dengan libur. Kali ini libur karena menyambut hari raya idul fitri 1435 hijriah. Tentu banyak orang-orang dari desa meninggalkan kampung mereka untuk beberapa alasan. Diantarannya mencari pekerjaan yang lebih layak, bersekolah, atau kegiatan lainnya. Salah satunya adalah saya, sudah 6 tahun saya meninggalkan kapung halaman untuk bersekolah di salah satu SMA ternama di kota Palembang. Mudik menjelang hari raya adalah rutinitas saya setiap tahunnya.Bagi saya mudik bukan hanya sekedar berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Tetapi juga untuk menikmatai Indahnya alam sumatera.
Aku memulai perjalanan mudik kali ini dari rumah. Karena aku menggunakan jasa travel untuk mengantarku sampai ke kampung halaman yang berada di Pendopo Lintang kabupaten Empat Lawang. Aku berangkat dari rumah pukul 10 pagi. Kali ini aku tidak sendirian, karena ada teman satu kampung ku yang juga bersekolah di Palembang. Keluar dari kota Palembang aku merasakan ada sedikit kekurangan di mudik kali ini, apa ya?? Ternyata kekurangannya adalah ‘macet’. Macet merupakan salah satu masalah dalam perjalanan, karena membuat waktu tempuh lebih lama. Tapi kali ini jalan dari Palembang Indralaya cukup lenggang.
Satu jam kemudian kami memasuki kabupaten Ogan Ilir dengan Indralaya sebagai Ibu kotanya. Tidak ada yang special dari kota ini, karena hutan-hutan yang kami lalui masih hutan rawa. Satu jam kemudian kami memasuki kota Prabumulih, masih belum ada yang special. Dua jam kemudian masuk ke kota Muara enim, disini keindahan alam sumatera mulai terlihat. Terutama saat keluar dari muara enim yang membutuhkan waktu dua jam menuju kota Lahat.
            Hamparan sawah yang sedang menguning, seolah siap untuk di panen, jalanan yang curam dan berliku menjadi tradisi di setiap detiknya. Senyum tak pernah pudar saat menyaksikan Indahnna alam ciptaan tuhan yang sungguh luar biasa. Perjalanan dari Muara Enim menuju Lahat tak pernah kuhabiskan untuk tidur. Setibanya di kota Lahat, kami disambut oleh sebuah bukit yang disebut ‘bukit telunjuk’ sebetulnya bukit ini tidak terlalu menyerupai telunjuk, melainkan lebih merupai jari jempol manusia, yang sedang menggengam empat jari lainnya.
            Keluar dari Lahat membutuhkan waktu dua jam menuju kota ‘bunga’ Pagaralam. Perjalanan masih di temani oleh jalan yang berliku dan curam, karena sudah mulai masuk wilayah perbukitan. Disinilah kita bisa melihat tanaman yang secara biologis sangat di kenal di Indonesia, yang menjadi tanaman endemic hutan sumatera. Tanaman itu adalah pepohonan besar dengan cabang-cabangnnya yang menjulang nan hijau ditambah akar gantungnya yang menjulur panjang. Tanaman ini disebut hutan hujan tropis. Waw! Sungguh bangga menjadi warga Indonesia. Bisa melihat dengan leluasa hijaunya alam Indonesia.
            Bukan hanya itu, terkadang aku melihat monyet-monyet liar ekor panjang yang menjadi monyet endemic sumatera melintas dan bermain di sekitar jalan. Hal itu menunjukan bahwa kami berada di salah satu bukit barisan sumatera. Ya, kota Pagaralam merupakan salah satu kota di wilayah perbukitan. Satu jam sebelum memasuki Pagaralam(tidak lagi di lahat), ada sebuah liku atau kelok yang begitu tajam, mungkin warga sumatera selatan sering mendengar nama kelok ini, namanya adalah ‘kelok endikat’ merupakan kelok yang menjadi pembatas antara kota Pagaralam dan Lahat. Jika beruntung, kita akan melihat air terjun di seberangnya.
            Apa yang membuat aku begitu bangga melintasi kelok ini? Jawabannya adalah Indah, keindahan dari seberang sebelum melintasi kelok endikat sudah terlihat, bahkan jalan yang berkelok tajam itu sudah sangat terlihat sebelum kami melintasi jembatan. Tak hentinya bersyukur menikmati keindahan yang tuhan berikan.
            Perjalanan masih terus berlanjut dengan jalan yang menanjak dan berliku. Beberapa menit kemudian kami kembali melintasi sebuah kelok yang mengucapkan selamat datang di kota Pagaralam. Kelok atau Liku Lematang, merupakan salah satu liku yang sangat eksis di telinga warga Sumatera selatan. Disini mulai di temui tanaman-tanaman yang tentunya tak di temukan di kota besar seperti Palembang. Alam nan hijau, udara nan sejuk seolah mebwa saya menyatu dengan alam, sekali lagi ‘Subhanallah’.
            Gunung dempo pun semakin menampakan lerengnnya pertanda kami sudah dekat dengan kota, sebuah kota administrative yang asri sengan cuaca khas pegunungan. Aku selalu menanamkan sebuah impian di kota ini, berharap suatu saat di beri izin oleh orang tua untuk mendaki megahnya puncak rimau gunung dempo, yang merupakan gunung tertinggi ke dua di sumatera.
            Keluar dari kota pagar alam membutuhkan waktu satu jam menuju kampung halaman ‘Pendopo Lintang kabupaten Empat Lawang’ sebuah kampung yang identik dengan kopi sumatera yang hitam dan kaya akan cita rasa khas Indonesia. Penduduknya pun ramah dan sedikit unik dengan bahasa mereka, yang kadang membuat ku tertawa. Sebuah desa yang sederhana dan sedang melakukan pembangunan di berbagai wilayahnya. Sebuah desa yang selalu mengajarkan ku banyak hal, sebuah desa yang tak bisa ku lukiskan dengan kata.

            Tuhan pasti memberikan alasan tertentu mengapa alam ini di ciptakan dengan Indah, salah satunya adalah untuk kita nimkati, bukan untuk dirusak atau di bakar. Karena hutan Indonesia tidak bisa di temukan di Negara lain, bahkan amazon sekalipun. Hutan Indonesia adalah hutan yang mnyimpa seribu makna dan sejuta kekayaan di dalamnya, dan akan kita mengerti jika kita menikmati di setiap meternya. 
Selamat Ulang Tahun Kevin Sanjaya Sukamuljo
Relia Ariani




T
anggal dua Agustus, adalah hari ke dua di bulan Agustus. Hari special bagi orang-orang yang lahir di tanggal ini. Sebut saja Kevin Sanjaya Sukamuljo, seorang atlet bulutangkis masa depan Indonesia yang hari ini genap berusia 19 tahun. Kevin adalah bungsu dari dua bersaudara.
            Sebagai seorang yang tengah berulang tahun, pasti Kevin memiliki banyak doa dan harapan di usianya yang ke Sembilan belas. Tak hanya Kevin, orang tua, kerabat, pelatih, teman-teman, bahkan fans Kevin pun menumpuhkan seribu harapan dan doa untuknya di hari ini.
            Sebagai salah satu fans yang sungguh mengidolakan sosok Kevin yang pekerja keras, penuh harapan, dengan mental seribu baja. Saya pun memohon kepada tuhan agar Kevin di berikan yang terbaik ke depannya.

            Harapan terkhusus semoga suatu hari bisa bertemu Kevin dan meluapkan kebanggaan padanya bahwa dia adalah seseorang yang sungguh menginspirasi. Selamat ulang tahun koko Flying, eh ko Kevin maksudnya :)

Rabu, 18 Juni 2014

Mengenal lebih dekat Kevin Sanjaya Sukamuljo

Kevin Sanjaya Sukamuljo, badminton lovers pasti udah tau sama cowok kelahiran 2 agustus 1995 ini. Kalo yang belum tahu, aduh kalian kudet banget. Kevin mengenal bulutangkis secara tidak langsung. Kevin suka bermain di lapangan belakang rumahnya, Kevin bilang awalnya Cuma iseng, terus jadi hobi, dan jadi atlet. Kok bisa sih? Ya bisa lah toh dia serius jalaninnya. Makanan kesukaan Kevin itu yang berbau-bau bebek dan lele *gue banget tapi semua makanan dia suka kok, buah favoritnya durian *duh kok samaan. 
Terus Kevin pengen banget ngelawan ganda china chai yun/fu haifeng *semogabisa. Kevin juga punya kepercayaan diri yang tinggi, karena itulah Kevin sering menang dalam pertandingan, kata Kevin sih kuncinya mental. Kevin itu pernah patner ganda sama rafidias, lukhi, hafiz, arya, masita, rosyita dan banyak lagi lah. Yang pasti sama siapapun patnernya Kevin selalu berhasil di lapangan. Terus kevin itu dua bersaudara, dia punya kakak namanya kak nico. Satu lagi kalau di lapangan Kevin terliahat pecicilan, gerak sana sini, lompat seribu kaki, terbang kesana kemari. Padahal di luar lapangan orangnya pendiem, ga banyak tingkah, kalo ngomong juga seperlunnya. Tapi aslinya jahil. Kevin juga temenan deket sama kak thomi azizan, suka latihan bareng, tap pas masih di djarum.
        Kevin sanjaya berasal dari klub PB Djarum sejak 2007. Setahun sebelumnya Kevin pernah gagal seleksi djarum. tapi Kevin pantang menyerah, dan Alhamdulillah dia lolos seleksi di tahun 2007. Kevin sempat bermain tunggal, tapi pelatih melihat Kevin lebih cocok di ganda. Awal tahun 2013 kevin di panggil untuk berlatih di pelatnas. Permainannya semakin berkembang. Salah satu hasilnya adalah medali perak perorangan world junior champion di Thailand bersama mashita mahmudin. Sedangkan di beregu(suhadinata cup) Kevin menjadi penentu lolosnya Indonesia ke babak final. Sayang Indonesia hanya meraih medali perak di nomor tersebut. Terakhir Kevin menjuarai Vietnam IC dan New Zealand GP bersama selvanus geh.
        Kevin juga suka sepakbola. Club favoritnya Barcelona *aduh samaan lagi. Di hari libur Kevin jarang keluar asrama, paling-paling dia latihan atau main bola sama yang lain, atau nggak dia main games di hp nya. Kata kakaknya barang favorit kevin itu raket sama gadgednya.
        Hari ini bulutangkis Indonesia lagi bangga-bangganya sama dia. Kevin bersama greysia polli memulangkan satu anak asuh Li yongbo Zang nan/zau yunlei *dibaca kalah* padahal mereka baru latihan 2x sebelum turnamen digelar. Kalian udah pada baca beritanya kan, kalo belum baca aja, jadi gausah dijelasin lagi oke.
        Banyak yang bilang Kevin beruntung bisa patner sama greys di Indonesia open tahun ini. Sebenernya greys yang disuruh milih patner sama pelatih. Taampilnya mereka di Indonesia open ini juga karena kesalah pahaman. Beberapa hari sebelum turnamen dimulai greys ditanya pelatih siap ngak tampil di Indonesia open, kak greys pikir mereka bakal tampil di Indonesia open grand prix gold ternyata di super series premier. Tapi mereka tampil enjoy dan “nothing to lose aja” Kevin juga pd pd aja.

        Aku pernah baca di e-magazine ada salah satu kalimat bijak dari Kevin, bisa nih di jadiin motivasi “di setiap kesuksesan saya di situ ada campur tangan tuhan. Saya bukan apa-apa tanpa adannya campur tangan tuhan” – Kevin Sanjaya Sukamlujo (Atlet badminton Indonesia).

Senin, 24 Februari 2014


Susah Di Tahan

          "Okay if you finish read the kinds of passive voice, write an exemple" kata mom nada. Siang itu jam di dinding menunjukan pukul 12:30, bukanya mengerjakan tugas yang di berikan.. Eli malah tidur. Eli selalu tidur di saat pelajaran bahasa inggris setiap senin, alasannya sih karena tengah hari. Tapi senin ini bukan hanya Eli, beberapa murid di kelas juga banyak yang menaruh kepala mereka di meja. Kali ini Eli tidak ketahuan sedang tidur.
"Ngerjain yang mana sih?" tanya Eli sigap
"Itu El di suruh cari contoh kalimat passive voice" sahut Puji
Eli hanya mengangguk dan mengerjakan soal
"El tumben ga tidur? tanya Defi
"Bukannya ga tidur, tapi ga ketahuan.. lagian ini mata di paksa buat tetep terbuka haha" jawab Eli sedikit tertawa..

          Eli ini anaknya paling ga tahanan sama yang namanya ngantuk. Kalo udah ngantuk yah.. udah tidur aja dia, dia bilang sih susah kalo di tahan. meskipun di tahanin ga tidur pas belajar eh ujung-ujungnya kebangun pas pelajaran selesai."teeeeeeeeeeeettttt" bel berdering pertanda pelajaran bahasa Inggris selesai. Hari itu setelah bahasa Inggris ada satu pelajaran lagi sebelum di bunyikannya bel pulang.Pelajarannya adalah.. jreng jreng.. Bahasa Indonesia. masalahnya? masalahnya gurunya ini bawel, bawelnya itu kadang penting kadang ga banget. Iya ga banget sampe-sampe siswa kelas udah pada ngiler aja.

          Karena Eli pindah tempat duduk, jadi dia di tanyain guru bahasa Indonesia
"Eli kenapa kamu mengungsi?" tanya sang guru
Eli hanya tertawa. Parahnya guru ini nanyain apa gitu tentang keluarga
"maklum penyakit tua" kata eli pada teman di sampingnya. Dan mereka hanya ketawa. Guru ini suka ngasih nasihat gitu, nah di sinilah waktu rawan buat tidur. Gimana ga tidur, udah capek belajar seharian, ngantuk, di tambah dongeng pulak, siapapun pasti pules deh.

          Eli bingung diakan sering tidur dikelas kalo udah jam siang, dia takut ngeganggu pelajaran dia. Jelas lah! dengan dia tidur otomatis dia ga meratiin pelajaran kan? Eli pengen banget ga tidur pas jam siang, tapi yah itu tadi. Kalo bisa di tahanin pasti ga bakal tidur kok, tapi kok tiba-tiba pelajaran udah abis aja? itu berarti Eli tidur dong... yok kta bantuin eli buat ngilangin kantuk dia.. gimana ceritanya nantikan di cerita selanjutnya.. maaf ya otak saya lagi butek, jadi ceritanya gantuk. Ikuti lanjutanya di cerita eli berikutnya. 

Jumat, 13 Desember 2013

Liburan ke Curup yuk!

       Guten tag! lama ga nulis. Oke sore ini aku mau bahas tentang salah satu budaya keluarga aku nih. jelasin dulu kali yah. Jadi gini aku berasal dari orang tua yang memiliki dua kebudayaan yang berbeda. Papaku dari Lintang kabupaten Empat Lawang. Dan mama dari Curup kabupaten Rejang Lebong. Nah sore ini aku mau bahas tentang kebudayaan Curup nih. Jadi kota Curup itu terletak di provinsi Bengkulu kabupaten Rejang Lebong. Disini dingin loh kayak di Pagar Alam. malah lebih dingin. Terakhir aku ke sini juli lalu, dan hebohnya kami pergi cuma bertiga. Ya aku sama adek-adekku. Tapi sumpah ya ke-tu-the-ren KEREN! oh iya kami menempuh perjalanan 4 jam dari Pendopo Lintang kabupaten Empat Lawang. Bisa juga sih kalo langsung dari Palembang bisa naik pesawat ke Bengkulu, dari bengkulu 2 jam ke Curup. Bisa juga naik kendaraan pribadi lewat Lubuk Linggau. Mau dibahas yang mana dulu nih? yauda bahas bahasa dulu ya.

      Bahasa! Curup punya bahasa yang unik, yang bikin aku selalu ketawa kalo dengerin mama bicara pake bahasa rejang kalo lagi ada kerabatnya. meskipun pengen belajar tapi ya kurang nalar lah susah banget dipahamin. Ada beberapa kata sih yang aku tau secara langsung dari mama, diantaranya:
Monok : Ayam
Mukmei: Makan
Uku : Aku
Coa: Tidak
Belek : Pulang
Bong : Kakek
Inoak : Ibu 
Siko : Sini.
        Jadi dari segelintir kata itu mama bilang bahasa Rejang(Curup) memiliki kesamaan sama bahasa Padang. Bukan cuma bahasa, tapi juga peninggalan sejarah. Kalo di Padang kan ada Malin kundang, nah kalo di Curup ada peninggalan sejarah batu menangis. Ya, intinnya sama sih. sama-sama orang yang dikutuk ibunya jadi batu. Tapi yang dicurup bentuknya ga mirip orang lagi. Kalo pengen liat batu ini bisa berkunjung ke tempat wisata trisakti suban air panas. Menyinggung wisata. disini wisata alamnya mantep coy.. Ada kebun strawbery, kebun sayur mayur, danau mas, pemandian air panas yang air panasnya langsung dari bukit kaba, terus ada bukit kaba, Air terjun. Pokonya ampuh la ngilangin stres. 
 
            danau mas                                                bukit kaba

 
               Suban air panas                        perkebunan strawbery

        Eh tau ga aku paling benci kalo disuruh mandi pagi kalo lagi di curup. Udaranya itu loh nusuk sampe pembulu darah terkecil. Airnya aja berasep kalo pagi-pagi. Berrr kalo di Pagar Alam kan dinginnya pegunungan. Nah kalo di Curup dinginnya perbukitan. Dan ternyata dingin perbukitan itu lebih dingin dari dingin pegunungan. Kalo di Curup udara siang hari itu biasanya 14-15 derajat. Lah begimana paginya?. 

         Sekarang kita bahas masalah makanan yuk. Disini karena letak wilayahnya berdekatan sama Provinsi Sumsel dan Sumbar. Jadi banyak kesamaan di dua daerah itu. Tapi yang aku tau cuma dikit. Ada 2 sih makanan dan camilan fovorit aku kalo lagi disini. Karena udaranya dingin jadi selalu makan "sambel", yang paling aku suka itu masakan sambel terongnya. Sambel terongnya khas, iya khas terongnya langsung diambil dari kebun. begitu juga cabai dan bumbu lain. Dimasak dan dimakan saat hangat. Wuuuuuu ngiler! Apalagi kalo makannya pas balik dari suban air panas. Ada juga namanya bistik. Kalo dikota sih namanya "steak" tapi bedanya ini dibalut rempah khas curup yang pastinya pedas!!. Oh iya lupa, masakan khas curup itu identik sama yang pedes pedes. Kalo untuk camilan ada kue tat. Bentuknya begini:
         
     Kue Tat                                              Pempek curup

        Terus ada namanya pempek juga dicurup. Bedanya, kalo di Palembang kan pake kuah cuka. Nah disini kuahnya encer kaya cuka juga tapi bentuknya mereah dan pedes atau biasa disebut sambel. Dan pempek ini enaknya dimakan hangat. Hmm nomnom jadi laper ya :p. 

        Next kita bahas warganya ya, warga Curup raamah-ramah, dan yang pasti mereka jarang ada yang jerawatan. Maksudnya mukanya mulus-mulus kaya orang jepang(ga semua tapi ya) kok bisa? nah kalo itu aku juga ga tau. Tapi kata mama sih karena faktor udara dan makanan (pedes) lah berarti banyak-banyak makan pedes dong biar mukanya mulus? ga gitu juga tapi ya -_-. Yan pasti curup memiliki kebudayaan yang lumayan menarik wisatawan kesini. Penasaran sama kota ini dan keunikannya. Liburan kesini yok, dijamin deh ga kalah seru liburan ke kota lain.

     Oke, sekian dulu artikel aku hari ini tentang kabupatenn Rejang Lebong dengan ibu kotanya Curup. Kalo kesini jangan lupa bawa kantong ya buat bawa balik kue tat dan pempeknya dijamin kesengsem. Auf Widersehen semua :)

        

Rabu, 02 Oktober 2013

wali songong

Nama: Relia Ariani
Kelas : XI IPA 1


“Walisongo” berarti sembilan orang wali”

          Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid
          Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
          Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
          Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.
Maulana Malik Ibrahim (1)
          Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
          Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
          Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
          Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
          Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
          Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n

Sunan Ampel (2)
          Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)
          Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
          Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
          Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
          Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.n

Sunan Giri (3)
          Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
          Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
          Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
          Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
          Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n

Sunan Bonang (4)
          Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
          Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah
yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
          Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
          Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n

Sunan Kalijaga (5)
          Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
          Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
          Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
          Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
          Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
          Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
          Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.n

Sunan Gunung Jati (6)
          Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).
          Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
          Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
          Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
          Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.n

Sunan Drajat (7)
          Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun
Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
          Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.n

Sunan Kudus (8)                    
                                                     Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang
          Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
          Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
          Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
          Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n

Sunan Muria (9)
          Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
          Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

          Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.