Sabtu, 02 Maret 2013

cerita rakyat sumsel 2 (asal usul tari seluang mudik)

asal usul tari seluang mudik


Dahulu kala di tepian Sungai Musi, di sekitar Desa Rantau Bayur dan Tebing Abang, tinggallah seorang bujangan yang hidup sendirian. Bujangan ini biasa dipanggil penduduk dengan sebutan Datuk Arenan. Karena usianya sudah sangat lanjut dan seumur hidupnya belum pernah menikah, orang-orang menggelarinya dengan sebutan bujang tua.
Pekerjaan sehari-hari Datuk Arenan adalah mencari ikan di sungai. Ia mencari ikan dengan menggunakan ambat (rawai). Ambat adalah alat untuk mencari ikan yang dibuat dari rotan yang panjangnya sekitar 50 – 100 meter yang biasa digunakan oleh masyarakat sekitar. Di setiap 1 meter diletakkan kail yang diberi umpan. Pada bagian pangkal ambat diikatkan di pohon besar di pinggir sungai. Sementara di bagian ujung  ambat diberi batu. Untuk mencari ikan ambat dibawa ke sungai dan ujung ambat diletakkan di tengah sungai. Ambat dipasang pagi atau sore hari dan diangkat pagi hari.
Seperti biasanya setiap pagi Datuk Arenan memeriksa ambatnya. Namun, tampaknya hari itu nasib baik tidak berpihak kepadanya.Di ambatnya tidak ada seekor ikanpun yang tersangkut, padahal saat itu sedang musim ikan mudik atau musim ikan kebangaran (mabuk). Pada musim itu biasanya air sungai warnanya berubah menjadi kehitam-hitaman dan berbau tidak sedap. Di antara ikan-ikan mabuk itu yang paling banyak adalah ikan seluang. Ikan seluang mabuk itu sangat mudah didapatkan. Memang saat itu sedang musim kemarau. Rupanya ikan seluang yang berlimpah itu tidak menarik minat Datuk Arenan dan malah ia memasang ikan seluang sebagai umpan di setiap kail yang ada di ambatnya.
Walaupun ia sempat kecewa tidak mendapatkan satu ekor ikan pun, Datuk Arenan tidak patah semangat. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Datuk Arenan melihat ambatnya. Rupanya, pagi ini Datuk Arenan kembali dibuat kecewa sebab tidak ada satu ikan pun yang melekat di ambatnya. Terpaksalah Datuk Arenan memasang lagi ambatnya dan menganti umpannya dengan yang baru. Setelah selesai, pulanglah ia ke rumah. Keesokan paginya ia periksa lagi ambatnya dan tetap tidak ada satu ikan pun yang ia dapatkan. Peristiwa ini berlangsung terus sampai satu minggu. Akan tetapi Datuk Arenan tidak pernah lelah. Tiap pagi ia terus berusaha dan tidak letih berharap sambil mengganti umpan dan memasang ambatnya.
Setelah satu minggu tidak mendapatkan hasil apa pun, tidak seperti malam-malam biasanya, pada malam itu itu Datuk Arenan tertidur sangat pulas. Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi orang tua yang sangat bijak dan bersahaja. Orang tua itu mengenakan pakaian putih bersih, wajahnya berjenggot putih panjang, dan memegang tongkat layaknya seorang wali.
“Hai Datuk Arenan, jadilah Engkau orang yang sabar dan tabah. Besok pagi sekali pergilah Engkau melihat ambatmu dan akan Kau dapatkan keajaiban di sana,” ujar sang kakek.
“Keajaiban apakah yang akan aku temukan?” tanya Datuk Arenan.
“Aku tidak akan menjelaskannya. Sebaiknya Kau lihat sendiri keajaiban itu besok pagi,” jawab kakek.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sang kakek langsung menghilang dan Datuk Arenan pun terbangun dari tidurnya. Ia sangat heran dengan mimpinya karena seumur hidupnya belum pernah ia bermimpi seperti itu. Ia terus memikirkan mimpinya itu dan tidak bisa tertidur lagi. Ia pun tidak sabar menunggu pagi hari.
Untuk membuktikan mimpinya, pagi-pagi sekali Datuk Arernan pergi ke sungai untuk menarik ambatnya. Suasana masih sangat sepi, belum ada satu orang pun yang ia temui di perjalanan. Saat menarik ambatnya, ia melihat pada kail kedua dan ketiga tersangkut alat tenun yang lengkap dan sangat bagus. Diambilnyalah alat tenun itu. Ia pasang lagi ambatnya.
“Bagus sekali alat tenun ini, punya siapakah gerangan? Apakah ini merupakan pesan dari mimpiku tadi malam?” tanya Datuk Arenan dalam hati.
Setelah itu Datuk Arenan pun pulang membawa alat tenun tadi. Karena hari masih sangat pagi, tak ada seorang pun yang melihat ia membawa alat tenun tersebut. Setiba di rumah dibersihkannya alat tenun itu sehingga alat tenun itu terlihat semakin bagus, tidak rusak dan bisa dipakai untuk menenun.
Malam harinya, kembali ia bermimpi didatangi kakek yang muncul dalam mimpinya malam kemarin.
“Datuk Arenan cucuku, hari ini sudah kau dapatkan keajaiaban itu. Akan tetapi besok pagi kau harus pergi lebih pagi lagi dan akan kau dapatkan keajaiban yang tak terbayangkan,” ujar kakek tersebut.
“Keajaiban apa lagikah yang akan aku terima, Kek?” tanya Datuk Arenan.
Sang kakek tidak menjawab, tetapi langsung menghilang. Datuk Arenan terbangun dari tidurnya dan terus memikirkan arti mimpinya itu.
“Apa ya, kira-kira yang akan terjadi besok pagi?” tanya Datuk Arenan di dalam hati.
Karena sibuk memikirkan mimpinya, ia tidak bisa tidur lagi. Seperti hari kemarin, ia pun tidak sabar menunggu pagi hari dan ingin mengetahui apa yang ia akan dapatkan besok.
Menjelang subuh, ia pergi.untuk memeriksa ambatnya. Karena hari masih gelap, ia tidak bertemu dengan seorang pun selama perjalanan ke sungai. Setelah sampai di tepi sungai, ia langsung menarik ambatnya. Benar! Kali ini ambatnya terasa berat sekali, tetapi ia tidak melihat satu ekor ikan pun yang melekat di kailnya. Dengan tidak berputus asa, ia terus menarik ambatnya. Pada bagian ujung ambat, ia melihat sesuatu yang berkilauan melekat di ambatnya. Semakin mendekati ujung ambat, barulah terlihat olehnya  seperti kain yang berkibar-kibar berkilauan. Setelah mencapai ujung ambat, terlihat jelas yang melekat di ujung ambat adalah seorang wanita. Ia sangat terkejut. Diangkatnya wanita itu dan dibawanya ke pinggir sungai. Bajunya yang putih berkilauan basah kuyup oleh air dan wanita itu sangat kedinginan. Segeralah dibawanya wanita tersebut pulang ke rumahnya.
Setiba di rumah, Datuk Arenan langsung membuka lemari pakaiannnya. Dicarinya pakaian yang cocok untuk wanita asing tersebut. Kemudian ia teringat bahwa ia pernah menyimpan baju almarhum ibunya. Baju itu sudah lama sekali ia simpan. Dicarinya baju tersebut dan dan ia berhasil menemukannya. Ternyata baju itu masih bagus.
“Ini handuk, baju, dan kain yang bisa kau pakai. Segeralah ganti pakaianmu yang basah itu. Nanti kamu masuk angin,” ujar Datuk Arenan.
Wanita itu menurut saja. Ia menuju kamar dan mengganti pakaiannya.
Sementara itu, Datuk Arenan sangat bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya. Mula-mula terbesik di benaknya untuk merahasiakan saja apa yang ia temukan pagi ini. Sesaat kemudian pikirannya berubah. Cukup lama ia memikirkan hal tersebut. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada krio di kampungnya.
“Ada apa Datuk, panas terik begini Datuk menemui saya. Pasti ada hal yang sangat penting yang ingin Datuk sampaikan kepada saya,” ujar krio.
“Ada hal penting yang ingin saya katakan.”
“Katakanlah, Datuk. Jangan sungkan-sungkan. Saya siap mendengarnya. Kalau memang ada masalah, mudah-mudahan saya bisa bantu.”
“Begini, Krio. Tadi pagi seperti biasa saya memeriksa ambat  yang saya pasang. Namun, saya mendapatkan suatu keajaiban Di ujung ambat saya tersangkut seorang wanita yang tidak saya kenal. Sekarang wanita itu ada di rumah saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan apakah yang saya lakukan ini sudah benar?”
“Benarkah Datuk apa yang Kau bicarakan?”
“Benar, Krio.”
“Jadi, sekarang ini wanita itu ada di rumahmu?”
“Betul, Krio.”
Cukup lama krio berpikir. Ia pun melanjutkan perkataannnya.
“Datuk adalah seorang laki-laki yang tinggal sendirian di rumah. Akan menjadi aib yang sangat besar kalau Datuk membiarkan wanita itu tinggal di rumah Datuk seperti sekarang ini. Menurut saya, karena Datuk belum punya istri, bagaimana kalau Datuk kawini saja wanita itu. Karena datuk yang menemukan wanita itu, Datuklah yang lebih berhak menjadi istrinya.”
Mendengar ucapan krio, Datuk Arenan sangat gembira. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya bahwa ia akan menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik dan selama ini kecantikannya belum pernah ditemui pada wanita-wanita di kampungnya.
Tidak lama setelah pembicaraan Datuk Arenan dengan Krio, diumumkanlah berita pernikahan Datuk Arenan. Setelah itu, diadakanlah pesta besar-besaran di kampung itu. Semua masyarakat bergembira. Pada acara perkawinan tersebut, Datuk Arenan dan istrinya mengenakan pakaian adat perkawinan. Istri Datuk Arena yang memang cantik, semakin cantik dangan dandanan pengantin tersebut. Semua warga pun mengakui dan memuji kecantikan istri Datuk Arenan sehingga Datuk Arenan merasa sangat bangga.
Setelah pesta pernikahan usai, istri Datuk Arenan berpesan kepada suaminya.
“Kak, aku ikhlas dan rela menjadi istri Kakak karena kebaikan Kakak yang telah menyelamatkanku. Namun, ada satu permintaanku agar rumah tangga kita tetap langgeng.”
“Permintaan apakah gerangan itu, Dik.”
“Permintaanku tidaklah berat. Aku hanya meminta pakaianku yang pertama kali kukenakan saat Kakak menemukanku hendaknya disimpan dengan baik dan jangan pernah memintaku untuk mengenakannya kembali.”
“Kalau hanya itu permintaanmu,  tentulah aku sanggupi.”
Mereka berdua kemudian hidup berbahagia. Datuk Arenan tetap meneruskan kebiasaannya menangkap ikan. Istrinya di rumah saja. Pekerjaan sehari-hari istrinya, di samping malayani suaminya, ia menenun benang menjadi kain menggunakan alat tenun yang ditemukan Datuk Arenan sebelum menemukan dirinya.
***
Selang beberapa bulan kemudian, desa tersebut kedatangan tamu jauh. Tamu yang datang adalah rombongan dari Kesultanan Palembang yang pergi berburu. Karena kemalaman, rombongan pun menginap di desa itu.
Seperti biasa, setiap ada tamu yang datang, masyarakat mengadakan jamuan untuk menghormati tamu. Selain dihidangkan makanan, tamu juga disuguhi dan dihibur dengan nyanyian dan tari-tarian.
Malam itu, semua tamu merasa senang dan mereka sangat menikmati suguhan yang disajikan. Banyak warga yang turut hadir dalam jamuan itu, termasuk Datuk Arenan dan istrinya.
Setelah semua tarian dan nyanyian ditampilkan, para tamu yang terpesona dengan kecantikan istri Datuk Arenan meminta kepada krio agar mengizinkan istri Datuk Arenan menari. Disampaikanlah keinginan para tamu kepada Datuk Arenan. Datuk Arenan merasa sangat gembira. Ia merasa tersanjung dan mendapat kehormatan yang luar biasa.
“Baiklah kalau begitu, kami berdua pamit pulang sebentar untuk berganti pakaian,” kata Datuk Arenan kepada krio yang menyampaikan permintaan para tamu.
“Sebenarnya, pakaian yang dipakai istrimu sudah cukup bagus, tetapi kalau istri Datuk ingin berganti pakaian kami persilakan. Kami semua menunggu di sini,” jawab krio.
Setelah berpamitan, pulanglah Datuk Arenan beserta istrinya. Kerena jarak dari tempat perjamuan menuju ke rumah Datuk Arenan tidak terlalu jauh, sebentar saja mereka sudah sampai di rumah.
“Dik, rasanya tidak ada pakaian yang paling pantas kau kenakan pada kesempatan baik ini selain pakaian yang engkau kenakan waktu pertama kali kita bertemu. Kenakanlah pakaian itu Kau akan kelihatan semakin cantik dan mempesona.”
“Kak, bukankah Kakak sudah berjanji padaku untuk tidak menyuruhku memakai pakaian ini? Jadi, tolong jangan suruh aku memakainya. Lebih baik aku kenakan pakaian yang lain saja. Bagaimana kalau yang ini?” kata istrinya sambil menunjukkan baju yang cukup bagus yang baru selesai ia buat.
“Tapi, Dik, Kakak ingin engkau mengenakan pakaian ini. Kakak ingin sekali semua mata terpesona melihat kecantikanmu dalam balutan pakaian ini dan tentu ini akan membuat Kakak akan sangat bangga .”
“Kak, sekali lagi tolong, jangan…jangan Kakak paksa aku memakai pakaian ini. Aku takut Kak, kalau aku memakai pakaian ini akan terjadi keanehan yang aku yakin Kakak dan aku tidak menghendakinya. Percayalah padaku, Kak!”
“Percayalah Dik, Kakak yakin tidak akan terjadi apa-apa pada diri Adik. Sekarang cepat kenakan, mereka semua sudah menunggu kedatangan kita.”
“Jangan Kak, lebih baik aku memakai pakaian yang lain saja.”
“Ayolah Dik, cepatlah kenakan pakaian ini!”
“Baiklah kalau Kakak memaksa, saya akan turuti. Akan tetapi Kakak jangan pernah menyesal dan jangan menyalahkan saya jika terjadi sesuatu setelah saya mengenakan pakaian ini.”
Setelah mengenakan pakaian tersebut, mereka berdua pergi ke tempat perjamuan. Kemudian, menarilah istri Datuk Arenan pada acara jamuan itu. Keindahan tariannya membuat semua yang hadir terpesona. Gerakan tariannya yang lemah gemulai sangat menarik dan memikat hati. Semua bertepuk tangan dan memuji penampilan isri Datuk Arenan.
Istri Datuk Arenan terus menari dengan sungguh-sungguh.. Namun, semakin lama istri Datuk Arenan menari, timbulah keanehan. Perlahan-lahan kaki istri Datuk Arenan terangkat naik. Semakin lama tubuhnya melayang semakin tinggi dan terus naik hingga hilang dari pandangan mata.
Semua yang hadir terpaku, lalu menjadi panik. Mereka bingung seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Terlebih-lebih Datuk Arenan. Ia berlari-lari sambil menjerit-jerit memanggil istrinya.
“Dik, turun Dik, jangan tinggalkan Kakak sendirian. Kakak janji tidak akan menyuruhmu memakai pakaian itu lagi. Turunlah Dik!”
Berkali-kali Datuk Arenan menjerit memanggil istrinya. Setelah lelah menjerit dan berlari-lari, ia pun tersungkur di tanah.
“Oh Dik, mengapa kau tinggalkan kakak sendirian. Belum lama kita bertemu, mengapa Kau tega meninggalkan Kakak dengan cara seperti ini,” ucap Datuk Arenan sambil tak henti-hentinya menangis dan menyesali tindakannya.
Warga yang mendengar ratapan Datuk Arenan pun turut hanyut dalam kesedihan. Tidak sedikit pula yang meneteskan air mata. Salah sorang warga membimbing Datuk Arenan pulang ke rumahnya.
Malam itu datuk Arenan terus memanggil-manggil istrinya sambil matanya menatap ke langit.
Setelah kejadian itu Datuk Arenan terus dalam kesedihan. Sambil meratapi kepergian istrinya, ia menggerak-gerakkan tubuhnya mencoba mengikuti gerakan tarian istrinya sebelum pergi. Ia ingat setiap gerakan istrinya. Setiap hari ia menari menirukan gerakan istrinya. Semakin sering ia menari, semakinlah ia sadar tarian istrinya itu seperti gerakan ikan seluang.
Untuk terus mengenang istrinya, Datuk Arenan pun mengajarkan garakan tarian istrinya kepada gadis-gadis di desanya. Tarian yang diajarkannya inilah yang diberi nama Tari Seluang Mudik.

cerita rakyat sumsel 1


Legenda Pulau Kemaro, Palembang sumatera selatan
Konon dahulu kala, di Bhumi Sriwijaya memerintahlah seorang raja yang adil dan bijak sana.  Raja ini memiliki seorang puteri yang cantik jelita bernama Siti Fatimah. Banyak pemuda-pemuda tampan dari berbagai penjuru nusantara datang, namun tidak satu pun yang bisa menaklukkan hati puteri Siti Fatimah.
Namun pada suatu hari, datanglah sebuah kapal besar dari negeri Cina, bersama dengan rombongan yang dipimpin seorang pangeran bernama Tam BUn An.
“Hmmm… Haiya…. Ini ternyata kerajaan Sriwijaya yang terkenal itu. Kotanya memang megah, penduduknya ramah-ramah dan makanan pempeknya uenak sekali, ya. Haiya….” Kata sang pangeran.
“Pangeran Tam Bun An mau langsung menemui puteri Siti Fatimah?” Tanya sang nahkoda kapal.
“Iyalah. Aku kan jauh-jauh ke Bhumi Sriwijaya ini karena tertarik kecantikan sang puteri Siti Fatimah, haruslah aku datang menemuinya sesegera mungkin.” Kata pangeran Tam Bun An.
“Ayo, pengawal. Kita langsung ke istana untuk menemui puteri raja. Siapkan barongsai dan musik perkusi yang meriah untuk menarik hatinya.” Kata sang nahkoda kapal.
Lalu rombongan pangeran dari Cina ini masuk ke kota Sriwijaya dengan meriah, di depan ada barongsai singa dengan dua orang pembawa pangeran Tam Bun An dan sang nahkoda. Di belakangnya ada 10 orang pengawal dengan barongsai naganya. Kemudian yang terakhir adalah rombongan 10 orang membawa  serta menabuh gendang dan perkusi lainnya.
Rombongan barongsai ini memainkan musik dan atraksinya tepat di depan istana raja Sriwijaya dan keramaian itu membuat puteri Siti Fatimah tertarik melihatnya.
“Dayang, ada apa gerangan di luar sana? Seperti ada keramaian dan musik yang menarik?” Kata sang puteri.
“Sepertinya ada rombongan penari barongsai tuan puteri. Kabarnya sudah dua hari mereka berlabuh di dermaga dipimpin oleh pangeran tampan dari Cina.” Kata si dayang.
“Oh, aku ingin sekali melihat atraksi mereka dayang. Mari kita ke pintu gerbang!” Dan puteri Siti Fatimah bersama dayang serta beberapa pengawal menonton pertunjukan barongsai itu sambil bertepuk tangan senang sekali.
“Wah, tarian dan gerakan silat serta musik kalian begitu indah sekali, dari manakah gerangan tuan?” Tanya sang puteri.
“Haiya..Saya Tam Bun An dari negeri Cina, ingin sekali bertemu dengan puteri Siti Fatimah yang cantik jelita. Segala musik dan gerak tari serta gerakan kung-fu yang tadi kami peragakan, semuanya untuk dipersembahkan pada sang puteri jelita…Haiya..”
“Oh, terima kasih pangeran tampan. Kalau boleh saya tahu apakah maksud kedatangan pangeran ke mari ?” Tanya sang puteri dengan pipi merona merah.
“Haiya….Saya datang kemari hanya untuk satu tujuan menemui sang puteri Siti Fatimah yang kabarnya seperti bidadari. Ternyata kabar itu benar sekali, saya malahan seperti melihat 7 bidadari dari kahyangan. Haiya…” Sang pangeran merayu, membuat puteri tambah malu-malu. Begitu banyak pangeran di nusantara yang menyatakan rasa suka, namun baru sekali ini hati puteri Siti Fatimah menjadi bergelora oleh rasa cinta.
Seperti sudah ada perasaan kenal lama, keduanya pun saling suka dan dalam 3 kali pertemuan bertekad menyatukan cinta.
Lalu ada bangsawan istana yang pernah ditolak cintanya oleh Siti Fatimah iri hati dan memberitahukan ke raja tentang hal ini. Dia mengatakan bahwa sang pangeran mau membawa puteri pergi ke negeri Cina.
“Cepat panggil pangeran Cina itu menghadapku!” Kata Raja Bhumi Sriwijaya.
“Hamba menghadap raja.” Kata sang pangeran Cina.
“Apa benar kau dan puteriku Siti Fatimah saling mencinta?”
“Benar raja. Hamba benar-benar mencintai puteri raja yang gagah perkasa.”
“Anak muda, adat istiadat kita berbeda dan beta tidak bersedia anakku kau bawa ke negeri Cina!” Kata sang Raja.
“Haiya…Saya sudah belajar adat istiadat sini raja dan saya bersedia tinggal dan bekerja dagang di Bhumi Sriwijaya duhai raja.” Sang pangeran Cina menyanggupi.
“Kalau begitu duduk perkaranya. Baiklah, kau boleh menjadi menantuku dengan syarat, kau memberikan uang mahar sejumlah 9 guci besar berisi emas untuk meminang puteriku.” Kata sang raja.
“Baiklah raja, permintaan raja akan saya sampaikan.”
Lalu pangeran membuat surat yang dititipkan ke merpati pos yang terbang sampai ke istana orang tuanya di negeri Cina.
Ayahanda sang pangeran mengirim surat balik dan menyatakan menyanggupinya.
Lalu bangsawan Cina itu mengirimkan 9 buah guci berisi emas batangan. Akan  tetapi supaya jangan diincar oleh penjahat bajak laut dari Somalia, maka ayah si pangeran memerintahkan, “Masukkan sayur-mayur di bagian paling atas guci-guci itu, supaya para bajak laut Somalia tidak tertarik merampok dan menguasai kapal kita”.
“Perintah dilaksanakan tuan!” Kata si pelayan bangsawan Cina.
Dan 2 bulan kemudian, sampailah kapal beserta 9 guci itu ke Bhumi Sriwijaya. Pangeran dengan bahagia menyampaikan kabar itu pada puteri Siti Fatimah dan ayahandanya.
“Haiya…Sembilan guci kiriman ayahanda sudah datang tuanku Raja. Mari kita ke kapal untuk melihatnya.”
“Mari para pengawal dan puteriku. Kita pergi ke dermaga.” Kata sang raja.
“Haiya…Itu guci ada 9 dan besar-besar sekali. Itu persembahan dari papa dan mama saya tuanku raja..” Si pangeran Tam Bun An pun tertawa senang.
Tetapi saat dia membuka ke 9 guci tersebut, dia melihat isinya hanya sayur-sayuran yang sudah membusuk.
“Ha? Kenapa papa dan mama tega berbuat seperti ini? Papa dan mama berjanji kirimkan 9 guci berisi emas untuk meminang kekasihku Siti Fatimah? Tetapi kenapa dikirimkan sayur-sayuran dalam guci-guci ini? Maaf, saya malu tuanku raja. Biarlah saya buang guci-guci ini ke Sungai Musi. Papa dan mama jahat sekali dengan aku anaknya”
“Sudahlah, kakanda. Janganlah berburuk sangka dengan ayahanda di Cina sana. Mungkin saja ada orang lain yang jahat menukar isinya dengan sayur-sayuran. Jangan marah dengan orang tua kakanda.” Kata sang puteri menyabarkannya.
“Tidak bisa! Ini benar-benar kelewatan. Saya benci pada papa dan mama saya. Saya buang saja guci-guci bersayur busuk itu!” Sang pangeran pun melempar guci-guci yang berat itu ke sungai.
Satu! Dua! Tiga!4,5,6,7,8…….Dan Saat guci ke-9 dia angkat, pangeran Tam Bun An sudah kecapaian. Lalu guci terlepas dan pecah di lantai kapal.
“Olala…..Tampaklah diantara pecahan guci itu emas batangan yang berkilauan.
“Ha? Emas batangan?”
“Iya, kakanda, ternyata benar papa dan mama kakanda mengirimkan emas-emas batangan di guci-guci lainnya juga. Sayur-sayuran tadi hanya untuk mengelabui saja kakanda.” Kata puteri Siti Fatimah.
“Ya, sudahlah pangeran. Saya percaya akan niat baik orang tuamu. Biarlah saja guci-guci yang sudah jatuh ke Sungai Musi itu. Tanpa itu semua kau masih kuijinkan menikahi puteriku.” Kata Raja.
“Tidak tuanku Raja. Saya menyesal telah berburuk sangka dengan papa dan mama di Cina. Saya telah durhaka memarahi mereka. Biarlah saya mengambil kembali semua emas-emas yang saya buang ke sungai itu. Tunggu aku adinda.” Dan walaupun sudah berusaha dicegah oleh puteri dan pengawal istana pangeran Tam Bun An tetap terjun ke Sungai Musi.
Satu jam, dua jam, setengah hari pangeran Tam Bun An tidak muncul-muncul lagi.
“Kanda, saya sangat mencintai kakanda. Saya akan menyusul kakanda mencari emas itu. Bila saya tidak kembali dan muncul endapan tanah di tengah sungai ini, anggaplah itu tempat kami berdua memadu janji.” Lalu tanpa diduga si puteri pun melompat ke Sungai Musi dan tidak muncul-muncul lagi.
Bertahun-tahun kemudian, lambat laun muncullah endapan tanah di tempat kedua kekasih itu terjun di tengah Sungai Musi.
Di sana dibuatkan oleh penduduk setempat sebuah kelenteng dan sebuah mesjid tempat sembahyang yang berdampingan.
Setiap perayaan Cap Go Meh pulau itu ramai dikunjungi warga Palembang.
Nah, adik-adik, dari cerita ini dapat diambil pelajaran adalah: Jangan sekali-sekali menganggap jelek pemberian orang tua kepada kita dengan marah-marah dan mencaci makinya. Mungkin saja menurut kalian pemberian atau didikannya tidak cocok dengan yang kau inginkan. Akan tetapi pasti ada nilai kebaikan di dalamnya yang walaupun tidak langsung terlihat manfaatnya saat ini, tetapi akan tampak bersinar terang-benderang pada waktunya nanti.
Ingatlah! Semua orang tua yang baik pasti akan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Senin, 25 Februari 2013

WISATA DAERAH EMPAT LAWANG PROVINSI SUMATERA SELATAN

·  Kabupaten Empat Lawang Ibukota : Tebing Tinggi
Moto : Saling Keruani Sangi Kerawati
Luas : 2.556 km persegi
Jarak ke Ibukota Provinsi : 198 km
Sekilas Empat Lawang : Nama kabupaten ini, menurut cerita rakyat berasal dari kata Empat Lawangan, yang dalam bahasa setempat berarti "Empat Pendekar (Pahlawan)". Hal tersebut karena pada zaman dahulu terdapat empat orang tokoh yang pernah memimpin daerah ini.

Potensi wisata :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0eosC0H2Rn-VRDkYSsPqO3BWcZC1Bag0ZiI1-ZxRvmXnf6PqSRr-cbKS8j6NnHABNGOJps0u93VLpbfr6afki0wst4KhDiFTUAqGY9iyKSlb4WxunTNEzualySdV7mDCiz1zxUpj2xkvX/s320/air-terjun-tujuh-panggung+4lawang.jpg
Air terjun 7 Panggung
(foto dokumentasi infotaktiktuk.blogspot.com)
  • Air Terjun 7 (Tujuh) Panggung Desa Tanjung Alam, Kecamatan Lintang Kanan.
    Air Terjun Tujuh Panggung terletak di atas deretan Bukit Barisan 1200 m di atas permukaan laut. Air terjun ini terdiri dari 7 tingkatan menyerupai panggung sehingga diberi nama Tujuh Panggung.

    Air terjun di panggung pertama terdiri dari enam deretan air mancur yang masing-masing setinggi 2 meter dan di bawahnya ada lubuk sedalam sekitar 3-4 meter dengan luas sekitar 4x5 meter. Sementara itu, di panggung kedua hingga ke tujuh jaga memberikan nuansa yang berbeda, karena ketinggian masing-masing air terjun memang berbeda, antara 5-14 meter. Di panggung ketujuh malahan terdapat dua sumber air yang mengucur ke lubuk di bawahnya dengan ketinggian sekitar 10 m. Hanya saja, panggung ini sepertinya memberikan kesan angker karena ada pusaran air yang cukup kuat.
  • Sumber Air Panas Desa Penantian kecamatan Pasemah Air Keruh 
  • Pantai Air Bayau / air Belerang Kecamatan Muara Pinang & Lintang Kanan 
  • Tebat Sakedi Desa Suku Dana, Kecamatan Muara Pinang 
  • Air Terjun Jaya Loka Kelurahan Jaya Loka, kecamatan Tebing Tinggi 
  • Pantai Musi Desa Terusan Lama, Kecamatan Tebing Tinggi 
  •  Air Terjun Sange 2 (Dua) Tingkat Desa Terusan Baru, Kecamatan Tebing Tinggi 
  • Gua Batu Desa Manggilan, kecamatan Pendopo 
  •  Ayek muare Desa Rantau Tenang, Kecamatan Tebing Tinggi 
  • Air Limus Desa Ula Dabuk, Kecamatan Talang Padang
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF04DeSpP1SmO29GjgGhXZPt4yvpdcwceBsxNgdgdYK33iUDf0sTtIcQAjNmQYPE1eIl1DI6WKIBFe0Yjr1fUohweE0ifd4kvv7V3vLC884ulLCU5loBddQ_-ai7UZO-rh4jMEh4_hXimg/s400/empat+lawang2.jpg
Panorama Empat Lawang
(foto dokumentasi empatlawangkab.go.id)


Ciri khas kabupaten Empat lawang
Ciri khas masing-masing daerah kadang memang berbeda walaupun terkadang hampir mempunyai kesamaan,begitupun daerah  kabupaten 4 lawang yang masih kabupaten  tergolong kabupaten muda  di Indonesia juga mempunyai ciri khas ataupn  kesamaan dengan daerah lain.
ciri khas suatu daerah salah satunya bisa kita lihat dari sisi makananya,rumah penduduk,dan mata pencarian masyarakatnya.dan kabupaten 4 lawang juga mempunyai kekhasan itu.

Jika kita melihat  dari sisi makanan khas masyarakat 4 lawang,masyarakat 4 lawang dalam hal  mencari bahan makanan meraka sangat memanfaatkan alam.misalkan pindang ikan sungai musi atau yang sering disebut oleh masyarkat dengan "masak asam ikan ayek musi" bahan pokoknya ialah ikan sungai musi yang sangat mudah didapatkan karena letak geografisnya berada di Hulu sungai musi.Ataupun juga sambal durian(baca; sambal tempoyak) yang bahan pokoknya dari dari daging durian matang itu juga disebabkan karena daeranya terletakdi dataran tinggi bukit barisan sehingga pohn durian sangat mudah tumbuh dan berbuah.

Ketika kita menilik dari sisi yang lain yaitu rumah penduduk kita akan melihat banyak sekali rumah panggung yang terbuat dari kayu baik itu dari kayu jati ataupun dari kayu meranti(kayu asli sumatera),alasan masyarakat membuat rumah panggung karena  faktor alam yang masih  berbentuk hutan dan masih banyak terdapat binatang buas sepetri harimau sumatera ataupun macan tutul.Mengapa masyarakat memakai bahan bangunan dari kayu itu juga karena alam di daerah bukit barisan masih berbaik hati dengan msyarakat untuk meyediakan bahan banguanan(kayu).

Selanjutnya kita bisa melihat ciri khsa daerah kabupaten 4 lawang dari sisi mata pencarian mayoritas masyarkatnya,masyarakat 4 lawang mayoritas masih bergantung kepada tanaman yang berbuah satu tahun sekali yaitu kopi walaupun sekarang sudah banyak masyarakat yang berpindah menjadi petani karet atau sawit.Kopi dalam masyarakat 4 lawang merupakan tanaman yang tidak asing lagi bagi masyarakat bahkan ketika masyarakat belum menanam kopi mereka merasa belum berkebun.

Dari contoh ketiga ciri khas msyarakat 4 lawang yaitu makanan,rumah penduduk dan mata pencarian penduduk kita dapat menyimpulkan bahwa ciri khas masyarakat 4 lawang banyak dipengaruhi oleh faktor alam.dan menjadi tugas kita untuk menjaga kelestarian alam kabupaten 4 lawang unutk kita wariskan kepada anak cucu kita.


Makanan khas masyarakat kabupaten 4 lawang
rumah penduduk kabupaten 4 lawang
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8bQe1HmuyJfr53oNPfRMR6TMp1rxAoyGi4TuuobboAIEoC022gMrx4UN_A0J5HQnF0SmushJTMI8qQLMdfbIITnLKGh0pV3LgHeq_IdTuDahGB_kKTFU5gJei5SFcUHnOHL4ggkLls_s/s400/eco-tourism1.jpg
salah satu mata pencaraian penduduk kabupaten 4 lawang
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfxi3pxKCAWH9gRlWGRYOlORECvOS5GnD6Iz-ygSxAxafKyY8U30xvf6w4J53K429vEmfsfuekENEOYuDYkn01iZiMp5f3R__pnUCIy4hBQRP5EJrf692jUB_ztTAbpkFkm7uwfiv6rUw/s320/196653_188792254497966_100001015799103_465382_2302955_n.jpg
Masakan khas kabupaten 4 lawang
Wilayah Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke yang dihuni ratusan suku bangsa dan etnis. Keragaman geografi dan suku bangsa inilah yang menjadikan Indonesia kaya akan keragaman budaya, termasuk budaya kuliner. Setiap suku dan etnis pasti memiliki cara tersendiri dalam meracik dan menyajikan makanan.

Salah satunya yaitu suku 4lawang,budaya kuliner di daerah ini banyak dipengaruhi letak geografis dan sumber daya alam yang ada karena masyarakat 4 lawang sangat senang berinteraksi dengan alam.

Beberapa contoh kuliner daerah 4 lawang yang masih bisa dijumpai contohnya:rebung(baca:gebung) asam,pindang ikan sungai(baca;ayek) musi.masak asam sungai(baca;ayek) musi,pindang tulang,kelicuk,tempoyak,lempuk,kecepol,gunjing lengkok dan masih banyak lagi kuliner khas daerah ini.memang terkadang dari segi bahasa makanan khas 4 lawang terdengar sangat aneh.
Berikut sedikit penjelasan mengenai berapa kuliner khas 4 lawang:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7fZkjSWGEN7Xdw4cZPIg34VFnlivcuhuN29LFZtL6yxqpiznMSOsEpahSAKLTn_ckcjXSYm1QNSzweVIyKQ5zJMxdLMk5BGRrYIRuvCXhqgpFJUFEuCgRhYicq6Rp7Hfe9d58kOkfQPA/s320/33606_450697021940_129753161940_5133408_5955412_n.jpg1.Pindang.masak asam ikan sungai(baca;ayek) musi 
         Pindang.masak asam ikan sungai(baca;ayek) musi merpukan makan  yang sangat mudah ditemukan,hal ini juga terpengaruh oleh sungai musi yang  banyak memberikan beragam ikan.
masarakat  4 lawang sangat menyukai masakan yang satu ini,jika kita hidangkan dalam suatu jamuan ada lauk daging,ayam atau bahkan masakn luar negeri(pizza,burger & spaghetti) maka masyarakat akan  lebih memilih pindang/masak asam  asam ikan sungai(baca:ayek) musi.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEWlu96q-t5zK8hVnaGYxs24b1I6rTLlK5C8l_e2BUF2M_5V1rVD7R4I1dsJhWO0Ncf-zhQltPgjbM-bxQP1jMC6vXgvHuS2JWSEqhBEfNYdeBVHTJ0Qa8LbotGC98XgHi4Sm09HLJTiQ/s320/72209_464197886940_129753161940_5345432_3213612_n.jpg















2 Pindang tulang
     Kuliner satu ini masih cukup mudah untuk didapatkan baik di rumah makan atau warung makan.tapi karena harga tulang sebagai bahan pokoknya cukup mahal,maka masyarakat lebih senang menyantap masakan ini pada saat ada warga yang  mengadakan hajatan.






https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7nbr4rbsAIrV-Ca9goGJgL4N-vCMyawNYaewrVuOd2qm-uafgogGu1rzdZRfy-glN7YtGLnIWHM-JJPArYRuQnEdcz9ZMEdoyyt3N8zl7M7oQUgRzCLUigIjVFWzwcpNb8DJWyP9XgPk/s320/149936_466886021940_129753161940_5372880_7116960_n.jpg
3.kelicuk
     Merupakan salah satu makanan rumahan yang sangat lezat untuk dimakan bersama keluarga.makanan satu ini terbuat dari campuran pisang yang dihancurkan dengan beras ketan merah atau putih,yang selanjutnya dibungkus dan dibentuk dengan pola segitiga sama kaki.
     Sekarang ini kelicuk sudah menjadi jajanan pasar yang mudah ditemuakan di pasar pekanan(baca:kalangan),dengan harga Rp 500/biji.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyEO0OxBZ_daymld7jx2xCpzjDkdbwneFxHpSt_5iWEyWAXPvGZEhz-4MyRGeas7RfJSYFXclSKRdXcUW84hY5XRgUoZPUNvGKgZBc_gw436eZkpk9gG1Jj2v2ZtJtNWS-FLWvIVHgs8I/s320/66655_452598341940_129753161940_5165119_7570566_n.jpg
4 Rebung asam(baca;gebung)
       kuliner satu ini berbahan dasar tunas bambu yang masih muda,selanjutnya dipotong kecil-kecil.Rebung asam(baca;gebung) sangat enak dinikmati jika dimasak bersama ikan sungai musi.



5 Tempoyak
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhu9qyWxBl-8SsSGBG3f__5mUjBXZZa5-rQKVQ01NXW_g2-H1Qz2wGiZiOb-8-DBc6ZLTsu_toLrvj-L7iCKPcijFGWf3TFcvx4H5dqKFkGpzbuWL0eL7U0YJK2nG_FRZ6t5Hl9e8fp5Do/s320/index.jpeg
       Tempoyak diambil dari daging durian yang matang,
tempoyak merupakan makan khas yang hanya bisa ditemukan pada musim durian saja.tempoyak juga terdapat di daerah lain,
seperti lubuk linggau,kepahiang,lahat dan palembang.tempoyak lebih nikmat jika dimakan bersama ikan sungai(ayek) musi baik dimasak bersamaan atau dimasak secara terpisah(dijadikan sambal).


lima contoh masakan tadi merupakan sebagian kecil dari ciri khas kabupaten empat lawang yan berbentuk kuliner,sebenarnya kuliner di kabupaten 4 lawang sangat banyak,tetapi belum banyak terekspos.


http://assets.kompas.com/data/photo/2012/11/27/1444546-musi-triboatton-620X310.JPGKOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA Tim Kamboja melaju di etape I Musi Triboatton, dengan menggunakan perahu kano mengarungi Sungai Musi dari Tanjung Raya hingga Tebing Tinggi, Empat Lahat, Sumatra Selatan, Senin (26/11/2012). Pada nomor perahu kano etape I, tim dari Sumatra Selatan II berada pada posisi pertama disusul Jawa Barat dan DKI Jakarta di posisi dua dan tiga